Metode Parenting Anak Sekolah

Sebuah pepatah mengatakan, ‘semua orang siap jadi pasangan tapi belum tentu siap menjadi orang tua’. Pepatah ini menunjukkan bahwa mengasuh anak bukanlah perkara mudah, terutama terkait dengan metode parenting anak sekolah.

parenting anak sekolah
clobas.co.id

Di satu sisi, setiap orang ingin mempunyai anak yang baik dan cerdas tapi belum tentu mengetahui bagaimana cara mendidik yang tepat.

Wawasan parenting sangat perlu bagi laki-laki ataupun perempuan sejak usia matang dan menjelang pernikahan. Perlu perhatian juga, bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak, yakni faktor biologis dan faktor eksternal.

Faktor keturunan berasal dari kemampuan kedua orang tuanya, sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkungan. Salah satu faktor eksternal yang membentuk kecerdasan anak adalah metode parenting dari orang tua.

Ayah dan ibu adalah sosok yang paling menentukan sifat, watak, dan kepribadian anak. Bahkan dapat dikatakan, 80% pengaruh lingkungan berasal dari mereka.

Baca juga: Menyiapkan Tugas Perkembangan Anak 5 Tahun

Tips Parenting Anak Sekolah Membentuk Anak Cerdas

Jika anak sedang berada diusia produktif belajar yakni mulai usia 7 hingga 12 tahun, maka yang perlu bagi mereka adalah metode parenting anak sekolah. Tujuannya adalah menumbuhkan kebiasaan belajar dan kegiatan-kegiatan positif.

Pada masa ini, anak sedang dalam kondisi sangat efektif untuk diarahkan. Memberikan mainan, buku cerita, atau berbagai media edukatif lainnya tidak akan maksimal jika tidak ada pendampingan langsung dari kedua atau salah satu orang tua.

Parenting adalah kata kerja yang artinya orang tua bersifat aktif menemani proses bertumbuh dan berkembang. Dalam konteks ini tentu saja bagaimana proses tumbuh kembang anak bisa berjalan dengan baik.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas beberapa tips parenting anak sekolah. Namun demikian pembahasan akan difokuskan pada usia awal mereka masuk sekolah.

Bagaimana cara membuat anak dapat belajar pengetahuan akademis secara maksimal dan mengenali bakat minat yang mereka miliki sedini mungkin.

Baca juga: Metode Parenting Anak Remaja untuk Orang Tua Baru

Langsung saja berikut ulasannya:

1. Melatih Anak Bertanya Kritis

Anak memiliki jiwa yang sangat aktif dan penuh dengan rasa ingin tahu. Mereka tidak akan tertarik untuk duduk diam mendengarkan penjelasan yang panjang lebar.

Jiwa penuh tanya tersebut selalu ingin mengambil peran, mengapa bisa seperti itu? Mengapa burung terbang? Mengapa mobil bergerak? Mengapa ada siang, ada malam dan pastinya akan muncul pertanyaan lainnya.

Disini orang tua bertugas untuk mengasah rasa ingin tahu tersebut. Pancing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar ‘mengapa’.

Itu akan merangsang rasa ingin tahu mereka semakin besar. Misalnya ketika Anda sedang menjemur baju, Anda bisa bertanya kepada si kecil, “taukah Kamu, mengapa pakaian basah ini bisa kering jika ditaruh di sini?”

Pertanyaan bisa seputar apa saja ketika sedang beraktifitas. Begitu pula saat menemani belajar materi sekolah.

Jangan sekali-kali menghujaninya dengan ceramah yang panjang. Lebih baik untuk mengajak berdialog atau diskusi.

Bahkan tidak masalah bagi orang tua untuk meminta pendapatnya terkait gambar tertentu karena itu akan membuatnya berlatih menyampaikan isi pikiran.

2. Jangan Terlalu Mengatur Anak

Salah satu metode parenting education atau parenting anak sekolah yang satu ini masih sering diabaikan oleh orang tua. Masih banyak orang tua yang gemar overprotektif terhadap putra-putri mereka.

Bahkan bisa jadi terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh buruk jika tidak dilakukan. Contohnya seperti memaksa anak belajar dalam waktu lama.

Setiap orang tua tentu menginginkan anak mereka bisa menguasai mata pelajaran di sekolah. Dapat pula dipahami jika upaya orang tua untuk mengatur jadwal mereka sehari-hari adalah untuk kebaikan anak itu sendiri.

Namun, berdasar beberapa kajian hal tersebut justru akan membuat anak tertekan. Bukan lebih pintar dikemudian hari tapi yang ada justru hanya stres dan suasana batin yang tidak nyaman.

Setiap anak harusnya memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang mereka mau. Dengan membebaskan mereka mengeksplorasi berbagai hal.

Mereka akan menemukan dan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan merekam berbagai peristiwa baru dalam otak mereka. Kegiatan-kegiatan seperti inilah yang membuat anak lebih cerdas secara alamiah.

Memaksa anak, dalam hal apapun juga berdampak kurang baik bagi kepribadian anak. Nantinya anak akan tumbuh menjadi sosok yang kurang bersemangat untuk menemukan hal-hal baru.

Bahaya lain yang mengintai bisa jadi anak kurang percaya diri. Dan kabar terburuknya secara tidak sadar juga membenci orang tuanya.

3. Jangan Meletakkan Ekspektasi pada Anak

Tema parenting tentang pola asuh anak yang juga cukup menarik adalah terkait masa depan anak. Orang tua seringkali menginginkan anak mereka menjadi sesuatu yang bisa jadi anak tidak inginkan.

Semisal harus menjadi dokter atau polisi. Bisa jadi anak sejatinya ingin jadi seniman, pengusaha atau profesi lain yang tidak sesuai harapan orang tua.

Pada tahap yang lebih ekstrim, mereka berupaya mengatur anak seperti kemauan mereka, harus memiliki nilai sekolah bagus, bisa ballet, dan sebagainya.

Terkadang orang tua lupa bahwa anak akan memiliki dunia yang berbeda dengan mereka. Anak tidak selalu mewarisi pekerjaan kedua orang tua atau menjadi seperti orang tua.

Membebaskan anak menjadi apa yang mereka mau sejak dini akan membuat mereka sayang kepada Anda dan menganggap Anda sebagai segalanya.

Tidak sedikit kasus anak bunuh diri karena tidak sanggup lagi menghadapi tuntutan kedua orang tua. Dalam jangka panjang, akibat dari tindakan yang bagi beberapa orang tua ‘baik’, dapat berakibat fatal.

Pemahaman tentang parenting anak sekolah menjadi penting dan krusial untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Paling sederhana tentu saja menempatkan mereka pada proses belajar yang menyenangkan.

4. Selektif Memilih Tempat Belajar

Ketika anak sudah sekolah, orang tua berbagi tugas dengan guru untuk mengasuh anak. Sekolah menjadi salah satu faktor eksternal yang penting bagi anak mengingat sekolah membutuhkan waktu 6 jam dalam sehari.

Tentu bukan jangka waktu yang sebentar. Oleh karena itu, pastikan Anda selektif dalam memilih lembaga sekolah.

Jangan sungkan untuk mencari informasi terlebih dahulu mengenai cara pengajaran. Jenis-jenis ekstrakurikuler, aturan sangsi bagi guru atau murid yang melakukan pelanggaran.

Atau bisa jadi cara mereka memotivasi anak untuk belajar dan lain sebagainya.

5. Selalu Memantau Anak di Sekolah

Jangan bosan untuk bertanya kepada anak mengenai aktifitas mereka di sekolah. Ketahui apa saja yang mereka pelajari ketika di sekolah, apa mereka memiliki PR?

Siapa nama teman sebangku dan lain sebagainya. Biarkan diri Anda menjadi pendengar untuk setiap kegiatan yang mereka lakukan hingga tidak ada yang mereka tutup-tutupi dari Anda.

Di satu sisi, Anda juga perlu sesekali menemui guru mereka untuk mengetahui bagaimana aktifitas mereka ketika berada di dalam kelas. Konsultasikan dengan guru tentang kegiatan anak selama di sekolah.

Mulai dari nilai apa yang baik dan kurang baik hingga mengenai kecenderungan anak ketika berada di sekolah. Hal itu bisa saja hobi menggambar, aktif bertanya, kurang berminat matematika, atau sejenisnya.

6. Menjadi Orang Tua sekaligus Sahabat

Idealnya, orang tua memang harus menjadi muara setiap anak untuk mencurahkan perasaan mereka. Tak peduli perasaan tersebut sedih ataupun senang, sakit ataupun gembira, menyenangkan atau memalukan.

Para orang tua harus mendampingi mereka agar tidak merasa kesepian atau mencari perlindungan dari orang yang salah. Untuk mewujudkan komunikasi seperti ini, orang tua harus bertindak mengayomi.

Hindari melakukan judgement atau memarahi anak dengan nada keras ketika mereka salah atau gagal dalam suatu hal. Tindakan demikian alih-alih dapat merubah mereka menjadi lebih baik, justru membuat mereka kian tertutup.

Ini disebut sebagai pola asuh koersif atau pola asuh yang menitik beratkan tentang benar mendapat pujian dan salah mendapat hukuman. Bila ini diterapkan secara tidak langsung menempatkan anak pada posisi lemah dan orang tua berkuasa.

Apapun yang terjadi pada anak, kebaikan ataupun kejahatan sangat sulit lepas dari pengaruh orang tua. Inilah sebabnya para psikolog sangat menghimbau orang tua untuk tidak memarahi mereka saat saat bersalah atau gagal.

Hal itu pastinya terjadi juga karena andil orang tua. Dimana mereka kurang bisa menjadi mentor yang baik.

Tinggalkan komentar