Mengajarkan Anak Menghadapi Kegagalan

Setiap orang tua pastinya menginginkan anak untuk sukses dan menganggap kegagalan adalah bagian yang bisa jadi tidak perlu ada. Menjadi penting kemudian untuk para orang tua memahami dan mengajarkan anak menghadapi kegagalan.

mengajarkan anak menghadapi kegagalan
kanalparenting.com

Sesuatu yang sejatinya lumrah tapi sayang begitu banyak diantara kita yang begitu gagal mencoba sekali dan menyerah. Hal ini terjadi bukan hanya pada anak-anak, seringkali mereka yang telah dewasa pun demikian.

Semua itu tentang mentalitas, tentang satu cara memandang suatu masalah apakah dengan kacamata positif atau negatif. Sudah seyogyanya para orang tua mengajarkan anak menghadapi kegagalan sesuai dengan usia tumbuh kembang mereka.

Beban yang diterima masing-masing orang pastinya berbeda. Semua itu sesuai dengan usia psikologis, tak terkecuali anak yang masih balita pun harus belajar menghadapi kegagalan.

Kegagalan adalah satu rasa tidak nyaman dimana seseorang tidak mendapat apa yang diinginkan. Wajar saja, dimana apa yang diinginkan tidak selalu akan tercapai. Mungkin tidak di dapat saat ini tapi bisa jadi diperoleh beberapa waktu kemudian.

Baca juga: Cara Mudah Menjaga Kesehatan Keluarga di Tengah Pandemi

Cara Sederhana Mengajarkan Anak Menghadapi Kegagalan

Ada banyak cara tentunya tapi dalam kehidupan sehari-hari cara ini bisa diterapkan tanpa melukai hati dan semangat anak untuk terus mencoba. Hidup itu bertumbuh dan berproses dan pastinya ada pasang surutnya.

Di rumah pun pun demikian, di saat mengasuh, mendidik dan merawat anak dibutuhkan kemampuan yang komprehensif. Dan setidaknya ada 6 cara mengajarkan anak menghadapi kegagalan yang bisa diterapkan.

Baca juga: 7 Kiat Cara Mendidik Anak Perempuan dalam Islam

1. Tidak Memberikan Semua yang Diinginkan

Menjadi kesalahan fatal pastinya bila setiap keinginan anak akan langsung dituruti. Tindakan ini mungkin saja adalah cermin kasih sayang orang tua kepada anak.

Tapi dibalik itu semua ada bahaya yang mengancam. Dimana anak akan berpikir bahwa semua di dunia ini akan didapat. Terlebih bila ia memiliki senjata pamungkas berupa tangisan dan orang tua akan luluh.

Yang ada kemudian apapun yang diinginkan bila tidak dituruti akan menangis. Oleh karena itu jangan sekali-kali mencoba memanjakan anak berlebihan.

Berat memang tapi begitulah tanggung jawab orang tua. Bagaimana bisa mengajarkan anak menghadapi kegagalan tanpa menyakiti.

2. Mengajarkan Kemandirian

Anak balita pun sejatinya sudah bisa mandiri. Semisal saat ia ingin buang air kecil dan diajarkan untuk pergi ke belakang atau toilet.

Bila memang usianya telah lebih dari 4 tahun maka pampers seyogyanga dilepas. Kalau tidak dan ia terbiasa buang air dipampers maka ke depan akan sulit untuk bisa mandiri.

Di usia tersebut anak pun telah bisa makan dengan sendiri tanpa harus disuapi. Jangan karena terlalu sayang atau takut tempat kotor atau belepotan maka anak dilarang makan sendiri.

Pendidikan sederhana sejak usia dini ini sangat penting untuk membentuk karakter dimasa yang akan datang.

3. Mengajarkan Tanggung Jawab

Siapa bilang mereka yang bisa tanggung jawab hanya orang dewasa. Anak kecil pun bisa menunjukkan kapasitasnya sebagai sosok yang bertanggung jawab.

Minimal paling mudah terlihat adalah bagaimana ia membereskan mainan usai digunakan. Tidak langsung terjadi secara serta merta pastinya karena butuh peran serta orang tua untuk mengajarkan bagaimana cara merapikan sesuatu.

Dengan contoh yang tepat, dengan kalimat yang santun maka anak akan bisa bertanggung jawab atas apa yang dikerjakan. Jangan khawatir bila hasil tidak memuaskan karena itu bukanlah tujuan.

Paling penting adalah anak tahu mana yang harus dikerjakan usai menggunakan sesuatu. Dengan treatment yang tepat maka langkah mengajarkan anak menghadapi kegagalan bisa terus berjalan.

4. Mengajarkan Berbagi

Jangan pernah takut untuk berbagi apalagi dalam rangka mendidik anak untuk lebih dermawan. Pastinya tidak butuh modal besar karena berapa sih jajan anak usia balita.

Berbagi dari hal yang paling kecil, tentu saja apa yang ia makan bisa dibagi kepada teman sebaya. Menjadi penting pula bagi para orang tua ketika membelikan jajan kepada anak untuk lebih dari satu.

Cara ini dirasa cukup ampuh untuk mencetak anak dermawan. Lain cerita bagi para orang tua bilamana jajan hanya satu saja dan anak merasa itu tidak cukup.

5. Pujian Yes, Hukuman No

Ketika semua orang masih percaya dengan konsep reward and punishment maka hukuman dianggap sesuatu yang relevan. Lain cerita bila mereka menyadari bila hukuman akan mematikan kreativitas anak.

Sebelum mencoba sesuatu maka ia akan takut bila gagal dan terkena hukuman. Saat ini lebih baik fokus dimana pujian atau reward lebih bermakna sehingga anak dengan suka cita akan berbuat kebaikan atau hal positif.

Sebagai orang yang lebih tua seyogyanya tidak pelit untuk memberikan pujian bila anak melakukan sesuatu yang baik. Cara ini akan efektif karena akan memacu anak untuk senantiasa berbuat baik.

6. Dekatkan dengan Hobi yang Kompetitif

Cara lain yang paling mudah untuk mengajarkan tentang kegagalan sudah pasti dengan ikut kompetisi. Orang tua yang sadar betul pentingnya sebuah hobi pastinya akan memfasilitasi anak untuk bisa menuntaskan kegiatan positif dan menyenangkan.

Sebut saja bermain bola bagi anak laki-laki. Mereka yang sejak kecil bermain bola akan dihadapkan situasi untuk berlatih setiap hari meski turnamen atau kompetisi tidak ada setiap bulan.

Dari event ini anak pasti tahu rasanya kalah dan gagal menjadi juara. Dari situ secara tidak langsung ia akan berlatih lebih giat agar kelak bisa lebih siap menghadapi kejuaraan.

Dampingi saat ia kalah dan ajarkan dalam kehidupan pun demikian, seseorang itu kadang ada di bawah dan kadang ada di atas. Tinggal bagaimana menikmati masa-masa itu dan lakukan yang terbaik.

Manfaat Belajar dari Kegagalan

Kesuksesan atau kegagalan sejatinya adalah satu hal biasa. Namun jangan salah, alam bawah sadar siapapun itu akan lebih siap menghadapi kesuksesan.

Sangat jarang ada seseorang yang menyiapkan diri untuk satu kesuksesan. Namun jangan salah pula, tak banyak orang tua yang siap mengajarkan anak menghadapi kegagalan.

Hidup itu layaknya permainan ada menang dan ada kalah. Mereka yang masih kalah bermain pastinya harus lebih banyak belajar dan berlatih. Jangan sampai baru beberapa kali kalah dan menyerah.

Cara-cara sederhana diatas pastinya bisa dilakukan para orang tua untuk menyiapkan anak memasuki dunia yang sebenarnya. Dunia yang konon keras dan tidak memberi kesempatan mereka yang lemah untuk bertahan

Mereka yang berhasil pastinya akan menjadi pribadi yang tangguh dan juara. Bisa bertahan dalam kondisi apapun dan melihat satu masalah dengan kacamata positif.

Sebaliknya mereka yang gagal dalam mengajarkan anak menghadapi kegagalan maka harus siap-siap bila mereka tidak siap menghadapi dunia nyata.

Tinggalkan komentar